::::Selamat Datang di Sarana Pusat Terapi Terpadu - Terapi Auditori Metoda Tomatis::::  
Artikel
    Create an account
  



Perjuangan Mengalahkan Keterbatasan
Dipublikasi pada Wednesday, 07 January 2009 oleh Admin

General / Umum Disadur dari artikel Majalah "Parent Indonesia" Edisi Desember 2008.

Vonis hiperaktif tidak pernah menghapus keceriaan dan semangat yang terpancar dari sosok bocah lelaki bernama Bill ini.

26 Januari 1996, pasangan Dr. Pherena Amalia SpRad dan Dr. Pirgok Ali Bhuto SpB dilingkupi suasana kebahagiaan. Putra mereka, Bill Arthur Rabin, terlahir normal dan sehat. Waktu pun bergulir cepat. Seperti halnya anak-anak yang lain, Bill melewati tahap tumbuh kembang pada umumnya. Berjalan, berlari, dan perkembangan fisiknya tampak normal dan tepat waktu. Satu hal yang mengalami keterlambatan adalah Bill belum bisa berbicara dengan lafal yang tepat ketika semua temannya sudah bisa melakukannya.

SEMPAT PUTUS ASA

Bill belum juga bisa mengucapkan dengan benar apa yang ingin dikatakannya padahal usianya sudah 4 tahun, dimana semestinya seorang anak sudah bisa cukup lancar berbicara. "Selain itu kami juga terkaget-kaget karena mendapati Bill yang memegang kotorannya sendiri. Suatu hal yang semestinya sudah tidak dilakukan anak seusianya. Akhirnya kami membawa dia ke psikiater, dan diagnosa mengatakan bahwa Bill menderita ADHD. Selain itu juga, frenulum lidah Bill terlalu maju. Ini mengakibatkan dia jadi susah berbicara," tutur Pherena. Sesuai saran dokter dan psikiaternya, Bill akhirnya menjalani operasi lidah di usia 5 tahun dan tetap bersekolah di TK biasa pada umumnya. Namun setelah itu, bukan berarti lantas Bill dan keluarga bisa menjalani hidupnya dengan tenang. "Waktu itu, dari hasil tes yang dilakukan pada suatu yayasan, hasil intelegensi yang didapat Bill ada di bawah rata-rata. Selain itu juga Bill cepat sekali bosan, tidak kenal lelah, dan susah mengontrol emosinya," tambah Pherena lagi. Karena perbedaan itu, Bill seringkali diejek oleh teman sekelasnya sehingga menghindari sekolah. "Jujur saja, waktu itu kami sempat putus asa dan merasa tidak ada harapan lagi karena keadaan Bill tersebut."

DUKUNGAN PENUH KELUARCA

Dengan keadaan Bill yang hiperaktif, orang tua dan dan keluarganya memang harus menyediakan kesabaran ekstra untuk menghadapinya. "Karena waktu itu kami pindah ke Ambon, dan di sana tidak ada sarana memadai untuk pengobatan, jadi sempat vakum selama beberapa tahun. Bill akhlrnya kami berikan terapi di dalam lingkup keluarga saja," papar Pherena yang berprofesi sebagai dokter spesialis radiologi ini. "Kami memberikan terapi bicara dan terapi okupasi, tapi cuma sebentar, karena setelah itu kami lebih fokus pada terapi perilaku," lanjutnya.

Keluarga Bill juga kadang sengaja melatih emosinya dengan menggoda. "Kalau sudah digoda oleh saudara-saudaranya, dan dia emosi atau marah, biasanya dia menghampiri saya sambil marah-marah dan mencubiti tangan saya. Kalau sudah begltu, biasanya saya coba menenangkan dia." Tidak itu saja, lingkungan keluarga yang sangat suportif pada Bill juga menerapkan aturan yang fair dan batasan yang jelas. "Kalau memang salah ya kami bllang salah. Kami memblasakan diri untuk tegas. Biasanya kalau tahu dirinya salah, Bill datang mengulurkan tangannya dan minta maaf. Selain itu, sejak kecil kami membiasakannya makan sendiri dan tidak disuapi. Saya dan suaml rnemang ingin menyiapkan anak-anak, tidak terkecuali juga Bill, agar bisa terbiasa hidup mandiri."

HOBI MUSIK

Perjuangan keluarga Bill memang tidak pernah berhenti. Saat kemball tinggal di Jakarta, atas saran psikolog, Bill pun kembali bersekolah. Selain Itu juga dla mendapatkan terapis untuk applied behaviour Sepanjang dua tahun terakhir, bocah lelaki yang tampak selalu ceria ini juga menunjukkan minatnya yang besar akan musik. Pherena pun melanjutkan, "Awalnya Bill les piano, lalu dla membuat konser bersama teman-temannya. Selain itu dia juga suka sekali bermain drum, dan entah kenapa, kalau sudah urusan mengingat lirik lagu, dia bisa cepat sekali hapal."

Ini adalah fakta yang menarik, karena saat berbicara Bill biasanya tergagap dan dia menghapal lirik hanya dari mendengar, dan bukan membacanya. Ketika bernyanyi, bocah yang kini berusia 12 tahun ini lancar dan tampak sangat menikmatinya. Saat ditemui pun, Bill yang didaulat untuk bernyanyi bahkan sempat meminta mikrofon, dan bisa menyanyikan lagu favoritnya tanpa gagap. "Minta mik. Mik-nya mana?" begltu ujarnya sambil bersiap-siap bernyanyi.

KEMAJUAN PESAT

Selain menampakkan minat di bidang musik, anak kedua dari pasangan Pherena dan Pirgok ini pun menunjukkan perkembangan perilaku yang pesat. Bila dulu susah berblcara karena gagap, kini Bill sudah bisa lebih tenang dalam menyampaikan maksudnya, sehingga bicaranya pun lebih jelas dan mudah ditangkap maknanya. Ketika orang tuanya kemudian menyekolahkannya di SARANA, sekolah dan pusat terapi terpadu untuk anak-anak berkebutuhan khusus sejak 4 bulan lalu, Bill tercatat mengalami banyak kemajuan.

"Kini selain bicaranya sudah mulai teratur dan jelas, dia juga sudah bisa lebih baik dalam mengontrol emosinya. Kalau dulu ketika digoda dia gampang marah dan mencublti saya habis-habisan, sekarang dia malahan bisa menanggapi godaan itu dengan tenang. Bisa ngeles istilahnya," ujar sang Mama lagi sambll tersenyum. Tangan kanannya yang dulu sulit menggenggarn pensil, kini sudah mantap menggoreskan pena di atas kertas. "Bill kini sangat bersemangat sekolah. Saking semangatnya, karena belum bisa membedakan waktu dan hari, saya kadang harus menglngatkannya kalau hari libur berarti sekolah juga libur. Kalau tidak begitu, dia pasti memaksa untuk berangkat sekolah," tambahnya.

Walaupun perjuangan merawat Bill mungkin masih harus menapaki jalan panjang, tapi kemajuan pesat yang ditunjukkan Bill sangat membanggakan dan membawa secercah harapan baru bagi pasangan Pherena dan Pirgok.


Hiperaktif Butuh Penanganan Berbeda

Hiperaktif sebenarnya ada tiga macam. Yang pertama, dikenal sebagai ADD (attention deficit disorder). Pada jenis ini, anak tidak aktif secara berlebihan. Mereka juga tidak mengganggu kegiatan di kelas ataupun aktivitas lain, jadi terkadang gejalanya tidak begitu tampak. Lalu ada juga Hyperactive / Impulsive Type. Pada jenis ini, anak-anak menunjukkan kedua hal, yaitu hiperaktif dan sikap impulsif, tetapi masih bisa sedikit fokus pada suatu hal. Yang terakhir adalah Combined Type (Inattentive / Hyperactive / lmpulsive). Anak-anak yang masuk dalam jenis ADHD ini biasanya menunjukkan gabungan semua gejala di atas.

"Anak hiperaktif memang membutuhkan penanganan khusus. Satu hal yang penting adalah makanan. Sebaiknya hindari makanan dengan pemanis-terutama pemanis buatan, serta yang mengandung protein kompleks. Pemilihan menu makanan yang tepat akan membuat anak hiperaktif menjadi lebih tenang secara emosi," kata Dra. Endang Retno Wardhani, psikolog dari sekolah untuk anak berkebutuhan khusus, SARANA, sekolah dan pusat terapi terpadu.

Sekitar 80% anak yang mengalami attention deficit biasanya mengalami alergi akan jenis makanan tertentu, yang tentunya juga akan berpengaruh pada kontrol emosi mereka. Selain itu, ia melanjutkan, proses pembelajarannya pun juga khusus. Seperti melakukan tambahan Terapi Perilaku, Terapi Okupasi, Terapi Wicara dan Komunikasi, serta Terapi Remedial. "Penanganan pada setiap anak juga tidak dapat disamaratakan karena berdasarkan data observasi atas perkembangan mereka, masing-masing anak memiliki tujuan yang berbeda. Yang jelas, agar maksimal dan dapat mengembangkan kemampuan anak menjadi individu yang mandiri, proses edukasi bagi anak hiperaktif memang membutuhkan dukungan bersama dari orang tua, guru, dan praktisi," kata Endang.




 
     Login
Nama Login

Password

Daftar
Lupa Password.

     Link Terkait
· Majalah "Parent Indonesia" Edisi Desember 2008.
· Lebih Banyak Tentang General / Umum
· Berita oleh Admin


Berita terpopuler tentang General / Umum:
Pubertas Pada Remaja Dengan Kebutuhan Khusus


     Nilai Berita
Rata-rata: 0
Pemilih: 0

Beri nilai berita ini:

Jelek
Biasa
Bagus
Sangat Bagus
Luar Biasa



     Opsi

Versi Cetak  Versi Cetak

Beri tahu Teman  Beri tahu Teman

"User's Login" | Login/Daftar | 0 komentar
Threshold
Isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengirimnya.

Anda tidak dibolehkan mengirim komentar, silakan daftar di sini

 
 
Developed by TTR  Copyright © 2001 SARANAKU.COM. All right reserved. Privacy policy.
PT Sarana Daya Autisma
Phone: (021)7827980 Fax: (021)7828906
Email: informasi@saranaku.com
Graha Simatupang, Tower II Blok D, Lantai 3
Jl. TB Simatupang, Kav.38, Jakarta 12540, Indonesia