Disadur dari artikel Majalah "Parent Indonesia" Edisi Desember 2008.
Vonis hiperaktif tidak pernah menghapus keceriaan dan semangat yang
terpancar dari sosok bocah lelaki bernama Bill ini.
26 Januari 1996, pasangan Dr. Pherena Amalia SpRad dan Dr. Pirgok Ali Bhuto
SpB dilingkupi suasana kebahagiaan. Putra mereka, Bill Arthur Rabin,
terlahir normal dan sehat. Waktu pun bergulir cepat. Seperti halnya
anak-anak yang lain, Bill melewati tahap tumbuh kembang pada umumnya.
Berjalan, berlari, dan perkembangan fisiknya tampak normal dan tepat waktu.
Satu hal yang mengalami keterlambatan adalah Bill belum bisa berbicara
dengan lafal yang tepat ketika semua temannya sudah bisa melakukannya.
SEMPAT PUTUS ASA
Bill belum juga bisa mengucapkan dengan benar apa yang ingin dikatakannya
padahal usianya sudah 4 tahun, dimana semestinya seorang anak sudah bisa
cukup lancar berbicara. "Selain itu kami juga terkaget-kaget karena
mendapati Bill yang memegang kotorannya sendiri. Suatu hal yang semestinya
sudah tidak dilakukan anak seusianya. Akhirnya kami membawa dia ke
psikiater, dan diagnosa mengatakan bahwa Bill menderita ADHD. Selain itu
juga, frenulum lidah Bill terlalu maju. Ini mengakibatkan dia jadi susah
berbicara," tutur Pherena. Sesuai saran dokter dan psikiaternya, Bill
akhirnya menjalani operasi lidah di usia 5 tahun dan tetap bersekolah di TK
biasa pada umumnya. Namun setelah itu, bukan berarti lantas Bill dan
keluarga bisa menjalani hidupnya dengan tenang. "Waktu itu, dari hasil tes
yang dilakukan pada suatu yayasan, hasil intelegensi yang didapat Bill ada
di bawah rata-rata. Selain itu juga Bill cepat sekali bosan, tidak kenal
lelah, dan susah mengontrol emosinya," tambah Pherena lagi. Karena
perbedaan itu, Bill seringkali diejek oleh teman sekelasnya sehingga
menghindari sekolah. "Jujur saja, waktu itu kami sempat putus asa dan
merasa tidak ada harapan lagi karena keadaan Bill tersebut."
DUKUNGAN PENUH KELUARCA
Dengan keadaan Bill yang hiperaktif, orang tua dan dan keluarganya memang
harus menyediakan kesabaran ekstra untuk menghadapinya. "Karena waktu itu
kami pindah ke Ambon, dan di sana tidak ada sarana memadai untuk
pengobatan, jadi sempat vakum selama beberapa tahun. Bill akhlrnya kami
berikan terapi di dalam lingkup keluarga saja," papar Pherena yang
berprofesi sebagai dokter spesialis radiologi ini. "Kami memberikan terapi
bicara dan terapi okupasi, tapi cuma sebentar, karena setelah itu kami
lebih fokus pada terapi perilaku," lanjutnya.
Keluarga Bill juga kadang sengaja melatih emosinya dengan menggoda. "Kalau
sudah digoda oleh saudara-saudaranya, dan dia emosi atau marah, biasanya
dia menghampiri saya sambil marah-marah dan mencubiti tangan saya. Kalau
sudah begltu, biasanya saya coba menenangkan dia." Tidak itu saja,
lingkungan keluarga yang sangat suportif pada Bill juga menerapkan aturan
yang fair dan batasan yang jelas. "Kalau memang salah ya kami bllang salah.
Kami memblasakan diri untuk tegas. Biasanya kalau tahu dirinya salah, Bill
datang mengulurkan tangannya dan minta maaf. Selain itu, sejak kecil kami
membiasakannya makan sendiri dan tidak disuapi. Saya dan suaml rnemang
ingin menyiapkan anak-anak, tidak terkecuali juga Bill, agar bisa terbiasa
hidup mandiri."
HOBI MUSIK
Perjuangan keluarga Bill memang tidak pernah berhenti. Saat kemball tinggal
di Jakarta, atas saran psikolog, Bill pun kembali bersekolah. Selain Itu
juga dla mendapatkan terapis untuk applied behaviour Sepanjang dua tahun
terakhir, bocah lelaki yang tampak selalu ceria ini juga menunjukkan
minatnya yang besar akan musik. Pherena pun melanjutkan, "Awalnya Bill les
piano, lalu dla membuat konser bersama teman-temannya. Selain itu dia juga
suka sekali bermain drum, dan entah kenapa, kalau sudah urusan mengingat
lirik lagu, dia bisa cepat sekali hapal."
Ini adalah fakta yang menarik, karena saat berbicara Bill biasanya tergagap
dan dia menghapal lirik hanya dari mendengar, dan bukan membacanya. Ketika
bernyanyi, bocah yang kini berusia 12 tahun ini lancar dan tampak sangat
menikmatinya. Saat ditemui pun, Bill yang didaulat untuk bernyanyi bahkan
sempat meminta mikrofon, dan bisa menyanyikan lagu favoritnya tanpa gagap.
"Minta mik. Mik-nya mana?" begltu ujarnya sambil bersiap-siap bernyanyi.
KEMAJUAN PESAT
Selain menampakkan minat di bidang musik, anak kedua dari pasangan Pherena
dan Pirgok ini pun menunjukkan perkembangan perilaku yang pesat. Bila dulu
susah berblcara karena gagap, kini Bill sudah bisa lebih tenang dalam
menyampaikan maksudnya, sehingga bicaranya pun lebih jelas dan mudah
ditangkap maknanya. Ketika orang tuanya kemudian menyekolahkannya di
SARANA, sekolah dan pusat terapi terpadu untuk anak-anak berkebutuhan
khusus sejak 4 bulan lalu, Bill tercatat mengalami banyak kemajuan.
"Kini selain bicaranya sudah mulai teratur dan jelas, dia juga sudah bisa
lebih baik dalam mengontrol emosinya. Kalau dulu ketika digoda dia gampang
marah dan mencublti saya habis-habisan, sekarang dia malahan bisa
menanggapi godaan itu dengan tenang. Bisa ngeles istilahnya," ujar sang
Mama lagi sambll tersenyum. Tangan kanannya yang dulu sulit menggenggarn
pensil, kini sudah mantap menggoreskan pena di atas kertas. "Bill kini
sangat bersemangat sekolah. Saking semangatnya, karena belum bisa
membedakan waktu dan hari, saya kadang harus menglngatkannya kalau hari
libur berarti sekolah juga libur. Kalau tidak begitu, dia pasti memaksa
untuk berangkat sekolah," tambahnya.
Walaupun perjuangan merawat Bill mungkin masih harus menapaki jalan
panjang, tapi kemajuan pesat yang ditunjukkan Bill sangat membanggakan dan
membawa secercah harapan baru bagi pasangan Pherena dan Pirgok.
Hiperaktif Butuh Penanganan Berbeda
Hiperaktif sebenarnya ada tiga macam. Yang pertama, dikenal sebagai ADD
(attention deficit disorder). Pada jenis ini, anak tidak aktif secara
berlebihan. Mereka juga tidak mengganggu kegiatan di kelas ataupun
aktivitas lain, jadi terkadang gejalanya tidak begitu tampak. Lalu ada juga
Hyperactive / Impulsive Type. Pada jenis ini, anak-anak menunjukkan kedua
hal, yaitu hiperaktif dan sikap impulsif, tetapi masih bisa sedikit fokus
pada suatu hal. Yang terakhir adalah Combined Type (Inattentive /
Hyperactive / lmpulsive). Anak-anak yang masuk dalam jenis ADHD ini biasanya
menunjukkan gabungan semua gejala di atas.
"Anak hiperaktif memang membutuhkan penanganan khusus. Satu hal yang
penting adalah makanan. Sebaiknya hindari makanan dengan pemanis-terutama
pemanis buatan, serta yang mengandung protein kompleks. Pemilihan menu
makanan yang tepat akan membuat anak hiperaktif menjadi lebih tenang secara
emosi," kata Dra. Endang Retno Wardhani, psikolog dari sekolah untuk anak
berkebutuhan khusus, SARANA, sekolah dan pusat terapi terpadu.
Sekitar 80% anak yang mengalami attention deficit biasanya mengalami alergi
akan jenis makanan tertentu, yang tentunya juga akan berpengaruh pada
kontrol emosi mereka. Selain itu, ia melanjutkan, proses pembelajarannya
pun juga khusus. Seperti melakukan tambahan Terapi Perilaku, Terapi
Okupasi, Terapi Wicara dan Komunikasi, serta Terapi Remedial. "Penanganan
pada setiap anak juga tidak dapat disamaratakan karena berdasarkan data
observasi atas perkembangan mereka, masing-masing anak memiliki tujuan yang
berbeda. Yang jelas, agar maksimal dan dapat mengembangkan kemampuan anak
menjadi individu yang mandiri, proses edukasi bagi anak hiperaktif memang
membutuhkan dukungan bersama dari orang tua, guru, dan praktisi," kata
Endang.